
Oleh: Jojo S. Nugroho, M.Sos, Praktisi Public Relations.
Melihat debat capres ketiga (7/01) mengingatkan saya pada sebuah buku berjudul The Invisible Gorilla, karya Daniel Simons dan Christopher Chabris, dua psikolog yang terkenal dengan eksperimen mereka yang mengejutkan.
“The Invisible Gorilla” menggali bagaimana intuisi kita seringkali menyesatkan. Buku ini mengambil namanya dari eksperimen terkenal yang menunjukkan bahwa ketika fokus pada tugas tertentu, orang dapat benar-benar gagal melihat gorila yang berjalan di tengah-tengah adegan. Inti dari buku ini adalah konsep “kesalahan kognitif” yang meliputi enam ilusi yang memengaruhi pemahaman kita: ilusi perhatian, memori, keyakinan, pengetahuan, penyebab, dan potensi. Penulis menggunakan eksperimen psikologis dan contoh-contoh dari dunia nyata untuk menggambarkan bagaimana ilusi ini mempengaruhi keputusan dan perilaku kita sehari-hari.
Konsep “The Invisible Gorilla” dapat diterapkan pada debat Pilpres, dimana pemirsa mungkin fokus pada narasi atau gaya tertentu dari kandidat dan mengabaikan informasi penting atau kontradiktif lainnya. Ini menunjukkan bagaimana perhatian selektif dapat mempengaruhi persepsi kita terhadap kinerja kandidat dan isu-isu yang dibahas.
Debat berlangsung pada Minggu, 7 Januari 2024, menjadi ajang pertarungan antara tiga capres, yaitu Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo. Ketiganya saling beradu argumen dan gagasan mengenai tema pertahanan, keamanan, hubungan internasional, globalisasi, geopolitik, dan politik luar negeri.
Namun, apakah kita benar-benar melihat dan mendengar apa yang sebenarnya terjadi dalam debat tersebut? Apakah kita mampu memperhatikan semua hal yang penting dan relevan? Apakah kita tidak terjebak oleh ilusi-ilusi intuitif yang menipu kita?
Ilusi-ilusi intuitif adalah kesalahan-kesalahan yang sering kita buat dalam berpikir dan bertindak, karena kita terlalu mengandalkan intuisi kita tanpa analisis. Dari keenam ilusi intuitif tersebut, kita mungkin tidak sadar bahwa kita juga mengalaminya saat menyaksikan debat capres ketiga. Kita mungkin tidak memperhatikan semua hal yang dikatakan oleh para capres, atau hanya memilih hal-hal yang sesuai dengan preferensi kita. Kita mungkin tidak mengingat semua fakta atau data yang disampaikan oleh para capres, atau hanya mengingat hal-hal yang menguntungkan atau merugikan capres tertentu.
Kita mungkin percaya bahwa capres yang kita dukung lebih baik daripada capres lain, atau bahwa capres yang kita tidak sukai lebih buruk daripada capres lain. Kita mungkin berpikir bahwa capres yang kita dukung bisa mencapai hal-hal yang hebat dengan mudah, atau bahwa capres yang kita tidak sukai tidak bisa melakukan apa-apa. Kita mungkin mencari hubungan sebab-akibat antara hal-hal yang tidak berhubungan, atau membuat narasi yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Ilusi-ilusi intuitif yang kita alami saat menyaksikan debat capres ketiga dapat berdampak negatif bagi kita sendiri maupun bagi demokrasi. Ilusi-ilusi tersebut dapat menimbulkan kesalahan, bias, atau kesalahpahaman yang dapat mengganggu proses pemilihan yang adil dan rasional.
Oleh karena itu, kita perlu lebih kritis dan skeptis terhadap intuisi kita, dan lebih terbuka dan teliti terhadap informasi yang ada. Kita juga perlu membandingkan visi, misi, dan program dari masing-masing capres, serta memeriksa fakta atau data yang disampaikan oleh mereka.
Debat capres ketiga telah berakhir, tetapi pilihan kita masih belum berakhir. Kita masih memiliki kesempatan untuk memilih capres yang terbaik bagi Indonesia. Kita tidak boleh terjebak oleh ilusi-ilusi intuitif yang menipu kita. Kita harus melihat dan mendengar apa yang sebenarnya terjadi, bukan apa yang kita ingin lihat dan dengar. Kita harus melihat gorila yang tidak terlihat oleh mata kita.


